Memahami Makna Bencana

Memahami Makna Bencana
Bencana Gempa Pijay

KETIKA Sang Penguasa berkehendak, maka tak seorang pun mampu untuk menolaknya. Tak ada pilihan lain, kecuali bersiap menghadapi setiap ketepan Allah Swt dengan segala hikmahnya. Mungkin kalimat inilah yang bisa membawa setiap orang untuk sampai pada titik kepasrahan tertinggi, yakni bertawakkal kepada Allah atas segala ujian dan peringatan-Nya.

Betapa tidak, Indonesia sebagai negeri yang terkenal dengan keindahan alamnya kini diperhadapkan pada berbagai bencana yang terus menghiasi negeri ini, bahkan Negara yang memiliki jumlah penduduk terbanyak keempat di dunia ini, harus rela melihat sebagian masyarakatnya menangis dan meratapi bencana yang datang silih berganti.

Indonesia kini telah menyandang status sebagai negeri siaga bencana. Tentu masih sangat segar dalam ingatan kita, bencana tanah longsor dan banjir bandang yang menerjang beberapa kecamatan di Kabupaten Garut dan Sumedang beberapa waktu lalu yang menyebabkan puluhan orang meninggal dunia dan ratusan rumah penduduk rata dengan tanah. Belum lagi dengan banjir tahunan yang telah menjadi langganan warga Bandung dan Jakarta yang akhir-akhir ini kerap kali merendam ratusan rumah penduduk dan memaksa setiap warga menghabiskan siang dan malamnya di tenda-tenda pengungsian.

Begitupun dengan bencana kabut asap akibat kebakaran hutan yang setiap tahunnya menyelimuti wilayah Sumatera dan Kalimantan yang sangat mengganggu warga setempat, bahkan menyebabkan tersendatnya roda perekonomian dan aktivitas penerbangan di wilayah tersebut. Dan yang sangat menyayat hati belakangan ini adalah musibah kecelakaan Pesawat Polri di Kepulauan Riau yang masih terus ditangani hingga saat ini. Sedihnya lagi, peristiwa tersebut terjadi hanya berselang beberapa hari pasca jatuhya Helikopter TNI AD di Kalimantan Utara.

Sebagai ujian

Belum lagi air mata kering menyaksikan rentetan bencana dan berbagai peristiwa menyedihkan itu, kini masyarakat Aceh kembali menghadapi kenyataan pahit akibat gempa berkekuatan 6,5 SR yang mengguncang Kabupaten Pidie Jaya dan sekitarnya. Akibat gempa tersebut, puluhan orang meninggal dunia, belum termasuk warga yang dinyatakan hilang dan ratusan rumah penduduk dan fasilitas umum rata dengan tanah. Saat ini, ribuan masyarakat wilayah tersebut harus bertahan di pengungsian dalam batas waktu yang belum ditentukan.

Begitupun dengan beragam bencana yang terjadi dari ujung barat hingga timur Indonesia yang mungkin luput dari pemberitaan media, karena berdasarkan data yang dirilis oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), telah terjadi sedikitnya 1.985 bencana di berbagai daerah di Indonesia hingga November 2016. Jumlah ini merupakan rekor tertinggi yang pernah terjadi sejak 10 tahun terakhir.

Rentetan peristiwa memilukan yang terus melanda negeri ini tentu tidak terjadi begitu saja, akan tetapi disebabkan oleh banyak faktor. Jika para ahli atau ilmuwan berpendapat bahwa bencana yang melanda wilayah Indonesia adalah sebuah fenomena natural yang memiliki sebab-sebab material, maka pada saat yang sama, sebagai orang yang percaya akan kekuasaan Sang Pencipta tentu harus meyakini bahwa hal tersebut merupakan ketetapan Allah yang diturunkan kepada ummat manusia sebagai ujian atau peringatan. Tentu tidak ada kontradiksi di dalamnya, karena setiap fenomena yang terjadi di alam semesta ini baik melalui sebab-sebab material atau yang lainnya tidak terlepas dari kehendak dan ketetapan Allah.

Disadari atau tidak, bencana yang menimpa seseorang bisa bermakna sebagai tanda kecintaan Allah pada hamba-Nya. Sehingga semakin tinggi tingkat keimanan seseorang, maka ujian (musibah) yang menimpanya akan semakin berat. Rasulullah saw bersabda, “Seseorang diuji sesuai keadaan agamanya. Jika agamanya kokoh maka diperberatlah ujiannya. Jika agamanya lemah maka ujiannya pun disesuaikan dengan agamanya. Ujian itu senantiasa menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa dosa sedikit pun.” (HR. Ahmad)

Jika membuka kembali lembaran-lembaran sejarah para Nabi dan Rasul maka mereka termasuk orang-orang yang mendapatkan ujian atau musibah yang jauh lebih dahsyat, jika dibandingkan dengan bencana yang menimpa ummat manusia di zaman ini. Namun dengan musibah yang mereka hadapi justru akan semakin memantapkan keimanannya kepada Allah, mereka pun sabar dan tabah mengahadapi segala bentuk musibah dan memaknainya sebagai ujian penguat keimanan untuk mengangkat derajatnya di hadapan Sang Pencipta.

Teguran manusia

Bencana alam yang melanda berbagai tempat di muka bumi ini mungkin saja memiliki makna untuk mengingatkan manusia agar tidak lupa mensyukuri nikmat dan bisa jadi bencana-bencana tersebut bermaksud untuk membangunkan manusia dari tidur lelapnya. Mulai dari kelalaian yang menenggelamkannya dalam kenikmatan duniawi hingga keserakahannya mengambil keuntungan dengan merusak sumber daya alam, sehingga dapat memicu reaksi alam yang sewaktu-waktu bisa “gerah” dan merespons perlakuan tangan jahil manusia.

Kelalaian dan kekhilafan tersebut dapat mengundang datangnya musibah atau bencana yang diturunkan oleh Allah. Dengan demikian, bencana yang datang kepadanya akan menjadi peringatan akan kelalaian, dosa dan kesahalahannya. Allah Swt berfirman, “Dan Sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebahagian azab yang dekat (di dunia) sebelum azab yang lebih besar, Mudah-mudahan mereka kembali ke jalan yang benar.” (QS. As-Sajdah: 21).

Rentetan bencana yang melanda negeri ini terjadi lantaran sebab-sebab natural berdasarkan kehendak Allah, namun setiap orang harus memahami makna dan probabilitas terjadinya, apakah bencana tersebut merupakan ujian atau peringatan. Sehingga setiap orang dapat memetik hikmah di balik bencana yang melanda dan mampu memahami sesuatu yang ingin disampaikan oleh Sang Penguasa Alam semesta kepada umat manusia melalui bencana. Barangkali saja Allah Swt akan mengingatkan manusia yang kurang bersyukur, menyadarkan mereka dari kelalaiannya atau bisa jadi bencana merupakan ujian menuju tingkat keimanan yang lebih tinggi. Wallahu a’alam bish-shawab.

* Achmad Firdaus, pengurus International Student Society, National University of Singapore. Email: achmadfirdaus77@gmail.com

Subscribe to receive free email updates: